SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP PEMERINTAH, WAJIB TAAT SELAIN MAKSIAT (BAG 1)

Tatkala nilai-nilai Islam dirasa asing oleh tiap pemeluknya, niscaya kerugian demi kerugian akan diderita umat ini. Ketidakpahaman umat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasar pemahaman salafus shalih pada ujungnya melahirkan sikap-sikap kontra produktif bagi umat itu sendiri. Umat akan banyak dirugikan karena berkah dari langit menjadi tersendat lantaran maksiat.

Satu sikap yang menonjol pada era masa kini, yaitu sikap menyelisihi penguasa karena prinsip-prinsip demokrasi memperkenankan tentang hal itu, merupakan sikap yang dianggap lumrah, bahkan dijadikan komoditas untuk menarik simpati masyarakat. Aksi menentang penguasa, mengambil peran oposisi, melempar kritik secara terbuka di hadapan publik terhadap penguasa, adalah sikap-sikap yang harus dikoreksi ulang. Sejalankah segala tindakan semacam itu bila diukur dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adakah contoh dari pendahulu umat (Salafus Shalih) terhadap tindakan-tindakan yang kini banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin?

Semoga Allâh Ta’ala memberikan manfaat kepada saya serta kaum muslimin dengan tulisan ini, khususnya bagi mereka yang terbatas kadar keilmuan dan pengetahuannya, mereka sering kali terpedaya dengan berbagai macam slogan-slogan yang menyesatkan dan isu-isu tendensius yang kurang baik untuk melawan negeri ini berikut penguasanya dan sebagai oposan para ulama penasehat umat. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan bahwa para ulama tidak amanah dan tidak ikhlas. Mereka mengecap para ulamanya sebagai penjilat penguasa dan menilai mereka sebagai thaghut (sesembahan selain Allâh) yang harus ditinggalkan.

Saudaraku yang mulia, semoga Allâh Ta’âlâ juga menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk menjalankan setiap kebaikan. Tiada daya dan upaya kecuali karena Allâh Ta’âlâ. Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallâhu ‘anhu berkata: ”Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh berkata: “Tidak boleh mengingkari tindak kemungkaran dengan mafsadat (kerusakan) yang lebih besar dari kemungkaran itu.”

Seiring dengan itu, saya akan berusaha menuliskan hadits-hadits yang telah tsabit dari Nabi yang penyayang dan penyampai petunjuk, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam di dalam risalah ini beserta ucapan-ucapan para ahli ilmu (ulama) yang mudah (untuk dinukilkan) dari generasi salaf umat ini dan para ulama reformis masa kini yang telah dikenal -alhamdulillâh- dengan keikhlasan dan nasehat yang mereka sampaikan kepada kaum muslimin. Setelah itu kami sertakan pula isyarat (maksud) ucapan mereka -semoga Allâh Ta’âlâ menjaga mereka- perihal celaan dan ghibah yang dilontarkan kepada para ulama, serta berbagai selebaran, tulisan yang datang dari luar negeri yang bermaksud menyulut api fitnah dan menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin, para ulama dan para penguasa mereka. Cukuplah Allâh Ta’âlâ yang menjadi penolong kita dan Dialah sebaik-baik pelindung.

Hadits-hadits Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam dan atsar para sahabat radhiallâhu ‘anhum perihal pembahasan ini.

Berikut ini adalah di antara sabda Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam dan atsar para sahabat radhiallâhu ‘anhum:

Dari Abdullah bin Umar radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasululllah shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan golonganku.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allâh. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, berarti ia telah durhaka kepada Allâh. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, berarti ia taat kepadaku. Barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, berarti ia telah durhaka kepadaku.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Auf Ibnu Malik radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang penguasa, lalu ia melihat penguasa tersebut melakukan perbuatan maksiat, maka hendaknya ia membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak melepaskan ketaatan kepadanya.” (Hadits Shahih riwayat Muslim dalam shahihnya)

Dari Mu’awiyah radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Tatkala Abu Dzar keluar menuju Ar-Rabdzah beliau bertemu serombongan pengendara dari Iraq, maka mereka berkata: “Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera untuk kami, niscaya orang-orang akan mendatangimu di bawah bendera itu. Maka belaiu berkata: “Pelan-pelan wahai kaum muslimin, sungguh saya telah mendengar Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Sepeninggalku nanti akan muncul penguasa, maka muliakanlah dia. Barangsiapa hendak merendahkannya maka berarti ia telah merobohkan sendi-sendi Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai ia mengembalikannya seperti semula.” (Hadist Shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Albany)

Dari Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Jika seseorang berkata orang-orang telah celaka, maka dialah orang yang paling celaka di antara mereka.” (Hadits Shahih diriwayatkan Muslim dalam shahihnya)

Dari Anas radhiallâhu ‘anhu ia berkata:

“Pembesar-pembesar kami dari kalangan shahabat Muhammad telah melarang kami, mereka berkata Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Janganlah kalian mencaci maki para penguasa dan janganlah kalian membenci mereka. Bertaqwalah kalian kepada Allâh dan bersabarlah. Sesungguhnya keputusan ini telah dekat.” (Hadits Shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Albani)

Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya, yaitu orang yang memisahkan diri dari jama’ah, orang yang mati dalam keadaan maksiat kepada pemimpinnya dan budak yang melarikan diri dari tuannya serta wanita yang ditinggal suaminya sedangkan suaminya telah memberikan nafkah yang cukup namun ia mempersembahkan perhiasan dan kecantikannya kepada orang lain.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Nanti akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak menjalani sunnahku. Dan akan datang di tengah-tengah kalian orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus aku perbuat jika aku menemui mereka? Rasulullah menjawab: Kamu patuh dan taat pada pemimpinmu, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)

Dari Ummu Salamah radhiallâhu ‘anha ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Nanti akan muncul sepeninggalku para penguasa, kalian mengetahuinya lalu kalian mengingkarinya. Barangsiapa mengingkarinya maka ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang membencinya maka sungguh ia telah selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya. Mereka bertanya: Apakah kita akan melawannya dengan pedang? Beliau bersabda: Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)

Dari Ubadah Bin Shamit radhiallâhu ‘anhu ia berkata:

Kami membaiat Rasûlullâh untuk patuh dan taat baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan dan untuk tetap memberikan nafkah baik dalam keadaan susah ataupun mudah, bahkan dalam keadaan mereka mengutamakan diri mereka dari pada kami, dan agar kami tidak merebut suatu urusan (kepemimpinan) dari pemiliknya, kecuali jika kami melihat kekufuran yang nyata, dan kami mempunyai bukti yang nyata dari Allâh padanya.” (Hadits Shahih driwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Tamim Ad-Dary radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Dien (agama) ini adalah nasehat. Kami bertanya: Bagi siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Bagi Allâh, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam mereka.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)

Dari Abu Bakrah radhiallâhu ‘anhu: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Penguasa adalah naungan Allâh di muka bumi, maka barangsiapa yang menghinakannya maka Allâh akan menghinakannya dan barangsiapa memuliakannya maka Allâh akan memuliakannya.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim, Ahmad, Ath-Thayalisi, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, dan dihasankan oleh Albani)

Dari Ibnu Umar radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, maka dia tidak mempunyai hujjah (alasan) pada hari kiamat nanti.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

Dari Arfajah Al-Asyja’i radhiallâhu ‘anhu berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Siapa saja yang ingin memecah belah persatuan kalian setelah kalian sepakat mengangkat seorang pemimpin, maka bunuhah ia.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)

Dari Irbadh bin Sariyah radhiallâhu ‘anhu berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam menyampaikan khutbah kepada kami, beliau bersabda:

Bertaqwalah kalian kepada Allâh, patuh dan taatlah, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak habasyi, sebab siapa saja yang hidup (panjang) sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka berpegangteguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khalifah rasyidin setelahku.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu hibban)

Dari Adi bin Hatim radhiallâhu ‘anhu kami bertanya:

Wahai Rasulullah kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan orang yang bertaqwa tetapi orang yang berbuat demikian dan demikian (ia menyebutkan beberapa kejelekan). Maka Rasulullah bersabda: “Bertaqwalah kalian kepada Allâh, patuh, dan taatlah.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Albani)

Dari Zaid bin Tsabit radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Tiga perkara yang menyebabkan hati muslim tidak akan terhinggapi kedengkian selama-lamanya: (1) Ikhlas dalam beramal karena Allâh (2) Menasehati penguasa (3) Komitmen terhadap jama’ah. Sesungguhnya doa mereka melingkupi dari belakang mereka.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Shahibus Sunan)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Lima perkara, barangsiapa mengerjakan salah satunya, maka ia akan mendapatkan jaminan dari Allâh: (1) Orang yang menjenguk orang sakit, atau (2) keluar untuk mengantarkan jenazah, atau (3) keluar untuk berperang, atau (4) menemui pemimpin dengan maksud memuliakan dan menghormatinya, atau (5) duduk di rumahnya, sehingga orang-orang selamat darinya.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim, Al-Bazzar, Al-Hakim dan Ath-Thabrani)

Dari Iyadh bin Al-Ghanim radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, hendaknya ia pegang tangannya, jika ia menerimanya maka itulah (yang diharapkan), jika tidak, maka dia telah menunaikan beban kewajibannya.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Albani)

Dari Wail bin Hujr radhiallâhu ‘anhu ia berkata:

“Kami bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat anda jika kita dipimpin oleh para penguasa yang melarang kami untuk mendapatkan hak-hak kami dan mereka menuntut kami akan hak-hak mereka? Maka beliau bersabda: “Patuh dan taatlah, sesungguhnya kewajiban mereka apa yang diwajibkan kepada mereka dan kewajiban kalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepada kalian.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam datang menemuiku di saat aku dalam keadaan tidur di masjid. Maka beliau bersabda:

Apa yang akan kamu perbuat jika kamu diusir darinya (dari masjid ini)?” Maka saya berkata: Saya akan pergi ke Syam. Maka beliau bertanya: “Apa yang kamu perbuat jika kamu diusir darinya? Maka saya jawab: “saya akan menebaskan pedangku ini wahai Rasûlullâh. Maka beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada hal tersebut dan lebih dekat kepada petunjuk? Kamu patuh dan taat, dan pergilah kemanapun mereka menggiringmu.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Ad-darimi dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Albani)

Dari Anas radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Nanti kalian akan menemui Al-atsarah (dalam keadaan mereka mengutamakan diri mereka dari pada kepentingan rakyatnya), maka bersabarlah kalian sampai kalian menemuiku.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Nanti akan hadir beberapa khalifah: Saya berkata: Kami bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Penuhilah pembaitan kepada khalifah yang pertama dan khalifah yang berikutnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allâh akan meminta pertanggungjawaban kepada mereka tentang hak-hak kalian.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang keluar dari jama’ah lalu ia mati, maka ia mati seperti matinya orang-orang jahiliyah.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim)

Dari An-Nu’man bin Bisyr radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Al-Jama’ah adalah rahmat sedangkan Al-Furqah (perpecahan) adalah adzab.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

Dari Al-Harits bin Bisyr radhiallâhu ‘anhu ia berkata: Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Aku perintahkan 5 perkara kepada kalian: “Patuh, taat, komitmen kepada jama’ah, berhijrah dan berjihad.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar radhiallâhu ‘anhu:

Saya datang menemui Usamah bin Zaid lalu saya bertanya: Tidakkah anda menasehati Utsman bin Affan agar menegakkan hukum had terhadap al-Walid? Maka ia berkata: Apakah kamu kira aku tidak menasehatinya melainkan di hadapanmu? Demi Allâh, sungguh saya telah menasehatinya antara aku dengan dirinya (empat mata), saya tidak ingin membuka pintu kejelekkan lalu saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan riwayat ini di antara riwayat-riwayat yang disebutkan dengan atsar)

Itulah di antara nash-nash yang telah disebutkan dalam Sunnah yang suci perihal penguasa dan ketaatan kepada mereka selain dalam perkara maksiat kepada Allâh Ta’âlâ. Semua hadits-hadits tersebut di atas berkualitas shahih. Kita dapat memetik faidah dari hadits-hadits tersebut di atas sebagai berikut:

Sesungguhnya patuh dan taat kepada penguasa muslim hukumnya wajib dalam semua keadaan selama bukan dalam hal maksiat.

  • Tidak boleh memberontak kepada para penguasa jika mereka tidak menerima nasehat.
  • Siapa saja yang telah menyampaikan nasehat kepada para penguasa dan mengingkari mereka dengan cara yang disyariatkan, maka sungguh ia telah berlepas diri dari dosa.
  • Tidak boleh mengekspos aib dan kesalahan-kesalahan orang lain secara vulgar (terang-terangan) dan menyampaikannya di berbagai tempat pertemuan. Sebab tindakan tersebut adalah ghibah terhadap mereka dan akan menebarkan perpecahan dan mengobarkan api fitnah di kalangan kaum muslimin.
  • Larangan menyulut api fitnah (kebohongan/kerusuhan) dan memancing berbagai pemicu yang dapat mengobarkannya.
  • kekufuran yang nyata pada mereka.

Sungguh indah apa yang telah diucapkan oleh Ibnul Mubarak:

Bisa jadi Allâh akan menolak persoalan yang sangat sulit/pelik dengan seorang penguasa dari agama kita sebagai rahmat dan keridhaan-Nya

Andaikata tidak ada para pemimpin, tidaklah akan aman jalur-jaur transportasi,

Dan orang-orang yang paling lemah di antara kita, akan menjadi santapan bagi orang-orang yang kuat di antara kita.”

Seorang bijak berkata:

Penguasa yang berbuat lalim lebih baik dari pada kekacauan yang terus berlangsung.”

-Bersambung insya Allâh-

Disarikan dari buku : Sikap Ahlus Sunnah terhadap Pemerintah, Wajib Taat selain Maksiat, Muhammad bin Nashir Al-‘Uraini, Penerbit An-Najiyah, cetakan pertama Muharram 1425 H/Maret 2004. Judul asli “Wujubu Tha’ah Ash-Shulthan fii ghairi Ma’shiati ar-Rahman”

Comments

Lia Amelia said…
Senang bisa berkunjung di blog Anda. trims.

Buruan Gabung Sekarang Juga dan Dapatkan Bonus Hingga Jutaan Rupiah disetiap Harinya Hanya di dewa poker
Aisyah M.Yusuf said…
Memahami Islam tidak cukup hanya lewat teks, tapi juga harus memahami konteks. Keduanya harus dipahami dan tidak bisa ditinggalkan. Kalau anda melulu melihat teks maka anda akan seperti orang yang hidup dalam goa. Kalau anda hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks maka anda akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya tanpa sasaran arah yang jelas. Sebaik-baik urusan itu memahami teks sesuai konteksnya.
http://bogotabb.blogspot.co.id/

Popular posts from this blog

Solusi Islami terhadap Gangguan Kejahatan Jin & Syaithan

Tanda-tanda Kiamat Besar (Bag 1)

Jin Dalam Al-Qur'an & As Sunnah